Saat akhir ramadhan, nabi Muhammad SAW mencontohkan beri’tikaf di masjid. Hal inilah yang saat ini banyak dilakukan oleh kaum muslimin di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Masjid jami’ atau masjid-masjid besar, umumnya akan tetap “hidup” di malam hari dengan kegiatan-kegiatan jamaah yang beri’tikaf, mulai dari membaca, mentadabburi kitab suci Al-qur’an, mengaji dalam halaqoh ilmu, diskusi ilmu syari’at, tauhid, hingga sekedar bercengkerama, mendidik anak dan keluarga, untuk terbiasa dekat dengan masjid melalui momen 10 hari terakhir. Keindahannya membuat sebagian keluarga tak melewatkannya dengan membuat agenda bersama, di masjid mana, apa kegiatannya, dan berapa lamanya. Fenomena 10 hari terakhir sangat terasa dalam beberapa tahun belakang di Indonesia. Parkir kendaraan akan penuh, jamaah pun sesak, tapi semua menikmati kesyahduannya.

Nah, bagaimana jika i’tikaf tersebut dilaksanakan di salah satu tempat tertua di dunia, yang paling mulia? Ya, masjidil haram. Saat akhir ramadhan, konon masjidil haram bisa lebih ramai dari musim haji akbar, karena seluruh jamaah berkumpul di satu tempat. Suasana dan khidmat kekhusyu’annya, tentu saja tak tergantikan dan membawa romansa spiritual yang syahdu, untuk mengulang lagi dan lagi, mendekat kepada Sang Khaliq pencipta semesta.

Halal traveler kami, Bimo Prasetio, baru saja bercerita pengalaman pertamanya melakukan i’tikaf di sana. Simak yuk tips-tips dan suasananya….

******************************************

Sharing dari Masjid Al Harom

Ternyata ramainya luar biasa. Malam 27 Ramadhan diperkirakan hingga 3 juta orang. Kalau yang sampai di luar mesjid diperkirakan hingga 4 juta. Jadi perlu siapkan strategi i’tikaf disini.

Mulai dari mencari lokasi (sudah banyak yang mengkavling saat kami datang). Belum lagi cuaca ekstrim. Dengan suhu sempat 44 derajat celcius, ditambah minum air dingin, serta istirahat kurang, alhasil flu berat melanda. Banyak juga yang mengalami hal sama.

Berbeda dengan strategi mengatur jadwal istirahat saat i’tikaf di Jakarta, bukan hanya waktu tidur, namun juga persiapan makan, pergi ke toilet, semua harus diperhatikan. Karena ada kebijakan buka-tutup gate. Alhasil, kalau habis Isya ke toilet, tidak bisa masuk lagi ke masjid karena di dalam telah penuh. Akhirnya harus puas cari tempat tarawih di lokasi luar sambil kordinasi barang bawaan ke teman-teman di dalam.

Berkelana di berbagai sudut Masjidil Harom sangat menyenangkan. Apalagi saat berbuka puasa. Beda tempat beda juga sajian berbuka yg bisa didapat, hehe. Alhamdulillah merasakan di roof top, di lokasi tawaf lantai 3, juga di gedung baru.

Tilawah sangat kondusif disini, sempat ngebut kejar khatam dalam sehari bisa 5 juz (ini belum pernah saya alami sebelumnya), walau sempet jadi kendor pasca khatam. Teman-teman yang lain lanjut tilawah untuk khatam selanjutnya.

Kenapa tidur juga harus diatur?
Karena Maghrib jam 7, Isya dan Tarawih mulai jam 9 selesai jam 11, baru makan malam di luar mesjid. Kalau mau lanjut Qiyamul Lail jam 01.00 dan selesai sekitar jam 2.30.

Mau sahur diluar? Bersegerahlah, karena jelang Subuh pintu ditutup lagi.

Suasana yang khusyuk dan syahdu di malam hari Masjidil Harom tidak tergantikan.

Pengalaman yang menyenangkan dan selayaknya diagendakan lagi tahun depan dengan persiapan yang lebih baik.

Rencananya, tahu depan akan membuat jadwal berbeda. Mendarat langsung ke Mekkah, hanya 2 atau 3 hari lalu lanjut ke Madinah.

Kalau di Madinah relatif jalan lebih dekat dan makan relatif mudah diakses dekat mesjid. Biasa, mutton and chicken briyani….

Siapa yang mau ikut tahun depan? 😊😊😊

Wasalam…

#SpiritualScaleUp #GetUpGetJannah