KH Tengku Zulkarnain, wasekjen MUI, dihadang sekelompok orang saat hendak turun dari pesawat di Kabupaten Sintang, Kalbar. Demikian berita yang beredar di sosial media sehari lalu, pada 12 januari 2017. Beliau dijadwalkan mengisi sebuah acara yang undangannya pun disampaikan Bupati Sintang. Karena penolakan ini, KH Tengku pun urung turun, meski konon beliau awalnya tetap bersikeras tidak mau kembali naik pesawat.
Sebuah perilaku yang tak pantas, karena selain undangannya adalah undangan resmi, KH Tengku bukanlah seorang kriminal, bukan penjahat. Beliau seorang ulama, selain menjabat sebagai wasekjen MUI, beliau juga ketua komisi fatwa ormas Mathla’ul Anwar.
Beberapa bulan lalu, di twitter, netizen geger dengan ungkapan “ndasmu”, yang ditujukan kepada salah satu Kyai Sepuh dari Rembang, mantan Rais ‘Aam PBNU, KH Mustofa Bisri atau Gusmus. Kata-kata ini tak hanya kasar, tapi benar-benar tak pantas ditujukan kepada seorang ulama, sekurangnya manusia dengan usia yang lebih tua. Gusmus adalah pimpinan sebuah pondok pesantren dengan ribuan santri, seorang ulama NU yang disegani dan dihormati.
Selebihnya kita melihat drama pendukung dua kubu yang lama kelamaan seperti melewati batas, dan tak jarang brutal. Meme-meme bergambar ulama dan umaro yang dibuat satir oleh akun sosmed anonim, menyindir bahkan merendahkan. Dan kita seolah terjebak asyik masyuk di dalamnya, menyesuaikan selera kita. Jika bukan ulama yang kita ikuti, maka kita diam. Jika ulamanya adalah yang menjadi rujukannya, maka dibela habis-habisan.
Lembaga ulama, jika mau disebut demikian karena ulama adalah nama yang disematkan kepada orang atau sekumpulan orang, adalah lembaga dengan kedudukan tinggi dalam agama. Di masa lalu, bahkan hingga hari ini, peran ulama dalam pembangunan masyarakat adalah keniscayaaan dan mutlak diperlukan, tanpa perdebatan.
Ulama tidak bisa dibanding-bandingkan perannya dengan orang biasa yang tidak berilmu, apalagi sekedar rekam jejak ilmu yang bertebaran di google. Jika ulama menyampaikan sesuatu yang tidak sama dengan google, atau tidak terdapat dalam google, itu sesuatu yang sangat wajar saja, karena ulama menggunakan akal, nurani dan ilmunya, sedangkan google hanyalah alat rekam yang akan memberikan orang yang bisa mengakses saja, tanpa perlu interaksi. Google bisa saja benar, dan ulama juga bisa salah. Namun bahkan sebenar-benarnya google, tidak akan dan tidak akan bisa pernah sama dengan sebenar-benarnya ulama.
Peran ilmu dari ulama juga sangat mewarnai kehidupan modern. Kemajuan ilmu pengetahuan di barat, tak lepas dari pondasi imiah para ulama.
Seorang Mark Zuckerberg, pendiri Facebook, adalah pembaca setia Muqaddimah karangan ulama masyhur Ibn Khaldoun. Jangan ditanya kehidupan ilmuwan yang sekaligus ulama di masa lalu. Pada masa keemasan, Islam memiliki saintis-saintis yang tidak hanya ahli dalam ilmu umum, tapi memiliki dasar pemahaman agama yang sangat kuat. Ibn Khaldoun, adalah sosiolog ulung yang sangat faham ilmu agama, penghafal qur’an dan seorang yang saleh. Beliau mempelajari ilmu hadits, fikih, ushul, bahasa, sastra, sejarah dan manthiq. Mengapa demikian lengkap ilmunya? Ya karena itulah kualitas ulama sesungguhnya.
Para ulama mengabdikan seluruh hidupnya tanpa kecuali untuk masyarakat, menyelesaikan persoalan-persoalan masyarakat, diminta atau tidak, dengan seluruh keikhlasan dan tanpa pamrih. Para ulama mengajarkan bagaimana masyarakat seharusnya menjaga adab dengan menjadi contoh, mengajarkan ilmu agama, tanpa iming-iming balasan dunia. Mereka hidup sangat zuhud.
Apakah kita heran mendengar kisah Ibnu Al Jurumi Al Shanhaji? Beliau adalah pengarang kitab Al-Jurumiyah yang menjadi kitab induk ilmu nahwu sepanjang masa. Untuk menguji keikhlasannya, melemparkan buku karangannya ke laut seraya berkata : jika benar aku ikhlas membuat buku ini karena Allah, tidak akan basah. Dan kitabnya diceritakan utuh tidak basah.
Atau bagaimana Imam Malik yang diceritakan menjaga adab dengan (maaf) tidak pernah membuang hajat di kota Madinah karena khawatir, ada bekas tanah yang pernah dilewati dan diinjak Rasulullah?
Masih tentang Imam Malik dengan kata-katannya “ilmu itu didatangi, bukan mendatangi”, saat menolak Khalifah Harun Al Rasyid (setara Presiden negara adidaya saat ini) yang memintanya datang ke istana mengajarkan ilmu agama kepada anaknya.
Di Indonesia, ada ribuan pondok pesantren yang telah hadir di tengah masyarakat sejak dulu sekali. Ada yang swadaya, ada yang dirintis sendiri, dan mayoritas adalah lembaga pendidikan berbiaya murah, melayani masyarakat. Semuanya, peran ulama dan para kyai.
Berbicara peran, yang orang biasa lakukan tentu tidaklah seberapa dibanding para ulama. Entah berapa juta dollar yang akan didapatkan para ulama, jika karya yang beliau tulis memiliki hak paten. Tetapi para ulama adalah para pengharap ridho Tuhannya semata. Kehidupan mereka seperti mutiara yang indah, mengabdikan dirinya sepenuhnya untuk ummat.
Masyarakat modern mungkin saja ingin mengurangi peran ulama, karena menganggap urusan moral adalah urusan privat. Prinsip ini sejalan dengan doktrin sekularisme yang memisahkan kehidupan beragama dengan urusan publik. Namun dalam masyarakat beragama, hal ini tidaklah bisa diterima dan justru berlawanan dengan ketentuan agama.
Bagaimana dengan ulama zaman sekarang, saat lembaga keulamaan menjadi bahan olok-olok dan satir, dituduh berbuat jahat?
Sama. Ulama tetaplah ulama, punya kedudukan satu tingkat lebih tinggi di atas orang awam.
Untuk menjawab ini, mari kita renungkan sebuah dialog oleh Abu Qasim Al Hakim :
Dikisahkan ada seorang pria bertanya kepada Abu Qasim Al-Hakim :
Kenapa ulama di zaman kita sekarang ini sering nasihatnya tidak didengar masyarakat? Jauh berbeda dengan ulama dahulu yang selalu diperhatikan dan diikuti..
Abu Qosim menjawab :
Ulama di zaman dulu dalam keadaan terjaga, sedangkan umatnya dalam keadaan tidur. Lalu mereka mereka membangunkan yang tertidur.
Sedangkan ulama di zaman sekarang keadaannya tidur, dan umat dalam keadaan mati.
Maka bagaimana kiranya orang yang tidur membangunkan yang mati?
(Nasha-ihul Ibad)
Dan begitulah kedudukan bagi kita yang awam. Jika ulama terjaga, kita tertidur. Jika ulama tertidur, maka kita mati.
Maka benarlah, sesalah-salahnya ulama, mungkin sebenar-benar kita…
