Indonesia sangat kaya lagi sangat terkenal akan ragam kulinernya. Jika kita hitung satu-satu, rasanya tak habis disebut dalam sehari, apalagi menghitung kuliner daerah yang bermacam ragam. Nasi goreng, mungkin saja tidak hanya terdapat di masyarakat kita, karena Filipina juga cukup familiar dengan kuliner ini. Tapi soal rasa, jangan ditanya. Meski sama-sama instant, sama “sekedar” menggoreng, jelas beda hasil akhirnya. Saat satu mess dengan kawan-kawan Filipina dulu semasa di luar negeri, nasi goreng yang mereka maksud hanya berbumbukan garam dan minyak.

Salah satu kuliner nasi goreng yang melegenda adalah Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih. Usaha yang kini memasuki generasi kedua itu konon dimulai sejak 58 tahun yang lalu. Perpaduan rempah-rempahan, kunyit lengkuas dan bumbu alami lain dipadukan dengan kari daging kambing, membuat rasa goreng ini disukai banyak orang. Saat malam, warung tenda ini benar-benar penuh. Puluhan kendaraan, mobil dan motor datang dan parkir, tak jarang membuat lalu lintas di sekitarnya kadang tersendat. Menurut salah seorang karyawan, dalam semalam, rata-rata mereka menghabiskan 50kg daging kambing dan 2 bakul besar. Banyak sekali ya..

Lalu dengan ratusan porsi per malam yang dijual, bagaimana cara menggorengnya?

Inilah yang menarik. Dalam satu kali adonan atau batch goreng, mereka menggoreng untuk sekitar seratusan porsi. Tentunya wajan yang digunakan adalah ukuran jumbo, satu botol kecap langsung habis satu batch, dan segepok bumbu lain yang juga dituang dalam ukuran yang membuat mata orang yang pertama melihat biasanya sedikit melotot, dengan mulut berdecak kagum. Superrr banyak..

Lalu bagaimana dengan status kehalalan nasi goreng ini?

Halalways mencoba mengolah informasi, namun tidak dalam konteks menghukumi halal haramnya, tetapi sesuai misi kami yaitu menyampaikan informasi secara umum saja.

Nasi Goreng Kambing Kebon Sirih dimulai sejak masih sebagai usaha kecil-kecilan, dan bahkan bisa dikatakan saat ini belum memiliki tempat permanen sebagaimana usaha yang sudah maju pada umumnya. Tentu dengan ini, cukup sulit untuk berbicara pengesahan melalui sertifikat halal. Usaha ini juga dimiliki keluarga muslim, yang secara otomatis seharusnya pemilik mengetahui kaidah-kaidah kehalalan makanan.

Untuk itu, kami akan sekedar memberi review pada bahan apa saja jika kita ingin tahu dan memastikan kehalalan nasi goreng di manapun.

Jika menilik bahan rempah, tentu bahan ini tidak perlu diperdebatkan. Begitupun nasi, secara umum saja bahwa beras adalah hasil pertanian.

Bahan lain yang bersentuhan adalah tambahan yang merupakan produk jadi dan olahan yang dibeli dari luar. Contohnya adalah kecap, minyak, saos, mentega, termasuk daging kambingnya. Apa saja bahan tambahannya, ini juga bisa dilihat dan dinilai. Beberapa pedagang nasi goreng sering menggunakan Ang Ciu sebagai tambahan. Ang Ciu adalah arak yang dihukumi haram oleh Majelis Ulama Indonesia.

Secara singkat, kita bisa melihat aspek ketelusuran dari mana bahan-bahan tadi dibeli, dan apakah ada bahan yang tidak halal. Begitupun dengan daging kambing, di mana dipotong, siapa yang memotong.

Nah demikian review nasi goreng kambing kebon sirih kali ini.

Tertarik mencoba?